Tokyo8, dalam banyak konteks, dibaca sebagai teknologi “orang kota”: bahasanya ilmiah, narasinya berbasis riset, legitimasidatang dari data dan uji coba. Semua itu benar, tetapi belumtentu relevan secara sosial. Bagi petani, bahasa ilmiah tidakotomatis beralih menjadi bahasa kepercayaan.
Masalahnya bukan pada substansi produk, melainkan pada posisi sosialnya. Tokyo8 hadir sebagai otoritas eksternal—berbicara tentang tanah, mikroorganisme, dan efisiensi—tanpaterlebih dahulu melekat dalam struktur relasi yang mengaturkehidupan petani sehari-hari.
Di titik ini, konsep social embeddedness menjadi kunci. Sebuahinovasi tidak akan diadopsi hanya karena ia efektif, murah, atauramah lingkungan. Ia harus terlebih dahulu tertanam dalamrelasi sosial, dalam jaringan kepercayaan, dan dalam tata moral komunitas.
Baca Juga:Begini Cara Nonton Live Streaming Gratis Full Pertandingan Final dan Juara Tiga Piala Presiden 2026Pecinta Rujak Salak Silakan Merapat ke Kuliner Legendaris Ma Ambreh di Kertarahayu Setu
Petani secara diam-diam bertanya:
• Apakah teknologi ini akan mengikat saya pada relasi baru?• Apakah saya akan bergantung pada aktor di luar desa?• Jika gagal, apakah saya akan disalahkan sendirian?Pertanyaan-pertanyaan ini jarang muncul dalam forum resmi, tetapi hidup dalam percakapan informal, obrolan di pematang, dan diskusi keluarga. Di sanalah keputusan adopsisesungguhnya dibuat.
Ketika Tokyo8 belum memiliki wajah sosial—belum memiliki“siapa”—ia tetap berada di luar pagar moral desa. Ia mungkindihormati, didengarkan, bahkan dicoba di demplot, tetapi belumdipercaya untuk mengelola risiko kehidupan nyata petani.
Antropologi mengajarkan satu pelajaran penting: kepercayaantidak dibangun lewat presentasi, tetapi lewat keterlibatanberulang dalam situasi risiko bersama. Teknologi baru menjadi“milik kita” bukan ketika dipahami, tetapi ketika ia hadirbersama kegagalan, ketidakpastian, dan konsekuensi sosialnya.
Maka, problem adopsi Tokyo8 bukan terletak pada absennyapengetahuan petani, melainkan pada absennya keterlekatansosial. Ia belum sepenuhnya menjadi bagian dari jejaring relasiyang menanggung beban moral dan ekonomi secara kolektif.
Pertanyaan reflektif yang layak diajukan—bukan untuk dijawabcepat, tetapi untuk direnungkan—adalah:Apakah Tokyo8 ingin diposisikan sebagai produk, atau sebagairelasi?
Karena di desa, teknologi yang tidak melekat secara sosial akanselalu tinggal sebagai tamu. Dan tamu, sebaik apa pun niatnya, tidak pernah diminta ikut menentukan masa depan rumah tanggapetani.
